Waktu itu aku lupa tanggal berapa, tapi yang paling tidak pernah bisa aku lupa adalah :
Tugas PMS membuatku gila. Baru saja pulang kuliah harus menuju asrama ITS guna mencari secercah jawaban dari teman-teman. Namun sebelumnya aku makan malam dengan seporsi krengsengan dan es teh di warung 57 bersama teman setia, Aa’. Baru seperempat aku menikmati makanku, tiba-tiba datanglah seorang bapak yang menanyakan harga teh hangat pada penjual warung. Dua ribu harga teh hangat yang akhirnya membuat sisa uang bapak itu menjadi dua ribu rupiah juga. Kemudian bapak itu menanyakan dimanakah terminal bratang. Dan ia menceritakan bahwa dia sedang mencari anaknya di Surabaya yang sudah sekian bulan pergi mencari kerja, sampai akhirnya ketika oper dari angkutan uang 50ribu milik bapak ditipu oleh sang supir (semoga supir ini mendapat balasan dari Allah). Karena tidak punya uang bapak itu berjalan dari kenjeran sampai area keputih dan akan melanjutkan ke terminal bratang. Uhh~ Hilang sudah selera makanku. Dan bapak tersebut berlalu. Ada yang mengguncang hatiku.
Aku memutuskan untuk pulang, namun baru saja beranjak aku menangis. Merasakan dosa terdalam. Serasa ada yang memanggil hatiku secara paksa. Aku memaksa aa’ mencari bapak itu. Aku yakin pasti belum jauh. Dan aku ambil rute menuju terminal bratang. Dan aku panik dan sontak berucap, “Kita harus nemuin bapak itu a’, demi Tuhan harus ketemu!”. Aku pun menoleh ke kanan-kiri jalan mencari sosok bapak itu. Dan, di depan UHT kupapas beliau dari depan. Wajahnya mulai takut dan panik, sampai akhirnya..
“Bapak yang tadi beli teh anget ya? Bapak nyasar?”
“Oh, iyaa mbak.. Saya mau pulang, saya lagi nyari anak saya, tapi uang saya diambil supir yang bohongin saya. Tinggal ini.”
“Bapak namanya siapa? Saya iis dan ini yusuf..”
“Saya Pak Yanto..”
“Bapak rumahnya dimana? Klo naik bis berapa harganya pak?”
“di Nganjuk mbag, mungkin 3ribuan mbag..”
Aku ingat uangnya bapak tinggal 2ribu, aku berniat memberikan uang yang aku bawa
“Ini saya ada uang buat bantu bapak, cuma 20ribuan sih pak.. Semoga cukup! Bapak mau ke terminal ya? Biar dianter yusuf ya pak?”
“Makasih banyak mbag (berkaca-kaca), sudah saya jalan aja.. Kurang ajar saya klo sudah dikasi uang malah dianter juga”
Aku dan Pak Yanti saling menego, namun akhirnya aku mengeluarkan jurus pemaksaan..
“Saya dosa klo biarin bapak sendiri, pokoknya bapak dianter sama yusuf. Harus pokoknya..”
“Trus mbagnya sama siapa?”
“Saya mau ke kampus, deket kok pak. Biar saya jalan aja
“
Ehh~ Malah bapaknya ngancem.
“Klo gtu saya ndak mau mbag, mbag dianter dulu aja”
Dan akhirnya aku mengalah, “Yaudah biar saya dianter dulu ya pak? Tapi bapak janji nunggu disini ya? Jangan kemana-mana..”
“Iya mbag, saya disini.. Janji kok! Mbag jangan Lupa klo ke terminal Nganjuk cari warung pecel pak Yanto
“
Aku mengangguk, “Iyaa pak
“
Setibanya di depan asrama aku meminta aa’ untuk bergegas mengantar bapak itu. Dan memberi petuah agar memaksa bapak itu untuk diantar sampai terminal Bungurasih bukan bratang. Tapi apa yang terjadi selama perjalanan…
“Sampai terminal bungur aja ya pak?”
“Jangan mas, kejauhan. Terminal bratang saja saya sudah sangat terimakasih”
“Gag papa kok pak, biar sekalian”
“Mata saya gag kuat klo kena angin mas, masnya juga harus buruan jemput mbagnya, sudah malam”
Setibanya di terminal bratang..
“Makasih mas, salam buat mbagnya”
Pak Yatno, dengan ancamannya, petuah, bahkan mengelak dengan alasan mata perih. Tulus! Dan akan aku ingat, di terminal Nganjuk nanti akan kucari warung pecel itu..
Thanks Aa’, The Hero is you!